Super El Niño 2027 Ancam Panen, Inflasi Pangan Indonesia Diprediksi Naik

Penulis: Vino Bastian  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 13:03:01 WIB
Peneliti BRIN dan ITB memperingatkan dampak Super El Niño terhadap jadwal tanam dan panen raya di Indonesia.

BALI — Fenomena Super El Niño diprediksi mencapai puncak pada Februari 2027 dengan indeks Niño 3.4 menembus +3,0 derajat Celcius, memicu risiko gagal panen dan kenaikan harga beras di Indonesia. Peneliti BRIN dan ITB memperingatkan pergeseran jadwal tanam musim hujan 2026/2027 yang bisa menggeser panen raya dari Maret-April ke April-Mei. Dampaknya, inflasi pangan diperkirakan meningkat seiring penurunan produktivitas lahan pertanian.

Indeks Niño 3.4 sebagai indikator utama kekuatan El Niño saat ini berada di positif 0,5 derajat Celcius dan diproyeksikan menembus rata-rata positif 3,0 derajat Celcius hingga Februari 2027. Angka itu jauh melampaui rekor El Niño sebelumnya sejak 1950-an. Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography menyebut anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa tahun ini menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Niño.

"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Niño sebelumnya sejak tahun 1950-an," kata Mark.

Risiko Kekeringan di Kalimantan dan Papua

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Erma Yulihastin menyoroti risiko produksi padi dan tekanan panas lingkungan. Pengukuran menggunakan indeks suhu bola basah atau Wet Bulb Global Temperature (WGBT) menunjukkan wilayah Kalimantan dan Papua sangat rentan terhadap panas serta potensi kebakaran hutan.

Berdasarkan simulasi dan analisis dari 14 model iklim NASA NEX-GDPP, ancaman kekeringan akibat El Niño diproyeksikan masih berlanjut hingga periode 2027-2028. Kondisi ini menuntut kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak, terutama daerah yang bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.

Jadwal Tanam Bergeser, Panen Raya Terancam

Djoko Santoso Abi Suroso dan Isnan Fauzi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membandingkan dampak El Niño terhadap inflasi bergejolak. Keduanya menemukan potensi risiko El Niño yang berujung pada kenaikan harga pangan, khususnya beras.

"Jika Super El Niño ini benar terjadi hingga awal 2027, maka terdapat potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen akan terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga pangan, khususnya beras," tulis Abi Suroso dan Fauzi di The Conversation.

Mereka membandingkan dampak El Niño terhadap harga beras rata-rata per tahun dengan sampel El Niño 2015-2016 dan 2023-2024. Kesimpulannya, penurunan produktivitas lahan pertanian akan menekan produksi padi yang akhirnya mengerek naik harga beras di pasaran.

Tekanan Inflasi Sudah Terasa

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 secara bulanan sebesar 0,21 persen, disumbang kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam, ikan, cabai, bawang, dan beras. Studi Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB menemukan setiap kali indeks Niño 3.4 memuncak, inflasi bergejolak ikut naik dalam rentang waktu berdekatan.

"Pola ini konsisten dengan riset internasional yang menemukan bahwa guncangan ENSO dapat menekan pertumbuhan ekonomi negara berkembang hingga 2 persen, dengan dampak yang dua kali lebih besar di kawasan tropis seperti Indonesia," jelas mereka.

Impor Beras Melonjak saat El Niño 2023-2024

Dampak El Niño terhadap inflasi dari tahun ke tahun semakin memburuk. El Niño 2023-2024 terjadi bertepatan dengan guncangan pasokan global, sementara neraca beras mulai defisit pada Juli-September 2023. India sebagai pengekspor beras terbesar dunia melarang ekspor beras nonbasmati untuk menjaga stok dan harga dalam negerinya.

Akibatnya, Indonesia dan negara lain yang harus mengimpor beras berebut pasokan dari sumber yang lebih terbatas dan otomatis lebih mahal. Pada 2023 Indonesia mengimpor 3,06 juta ton beras, lalu naik menjadi 4,52 juta ton pada 2024. Angka itu tiga hingga lima kali lipat dibanding 2015 (861 ribu ton) dan 2016 (1,28 juta ton).

Menghadapi risiko El Niño yang semakin parah tahun ini, peneliti menilai perlu kebijakan untuk menjaga kestabilan pasokan pangan. "Ada kemungkinan hujan akan datang lebih lambat dari jadwal biasanya. Imbasnya, musim tanam ikut mundur, dan panen raya yang biasanya jatuh Maret-April berisiko tergeser ke April-Mei. Secara historis, ini merupakan periode paling rentan terhadap lonjakan harga pangan," tulis mereka.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top